Tampilkan postingan dengan label penjajahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penjajahan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 September 2011

Kebodohan adalah Kekuatan : Dunia Orwellian Pasca 11 September

“Sampai di mana batas kebodohan kita, sampai di situlah wilayah kekuatan imperium. Untuk melawan kekuatan imperium sama artinya kita harus melawan kebodohan kita sendiri.”

 

------------------------------------------------ 

 

Novel fiksi-politik “1984” karya George Orwell (terbit tahun 1949) mengisahkan secara dramatis dunia masa depan yang mengerikan. Dunia itu dihuni manusia yang menjadi budak salah satu dari tiga negara adidaya, masing-masing dipimpin secara otoriter oleh sebuah partai tunggal, yang berperang satu sama lain. Setiap negara memiliki sistem tersendiri untuk membodohi rakyatnya lewat media yang dimanipulasi. Pikiran dikendalikan, perilaku diawasi semata-mata demi membenarkan tindakan tirannya yang hanya mementingkan kekuasaan dibanding rakyatnya. Inilah dunia Orwellian (mengambil nama sang pengarang).

 

NIC (National Intelligence Council) pada tahun 2004 mencatumkan dunia Orwellian sebagai salah satu skenario masa depan di samping tiga skenario lain : Kebangkitan China-India, Pax Americana (Amerika berlanjut menjadi penguasa dunia) dan Khilafah Islam. Namun seolah-olah kita sudah mendapat gambaran yang mendekati kepastian bahwasanya dunia Orwellian itu tidak lain adalah Pax Americana sendiri. Amerika Serikat adalah imperium yang mengklaim membawa demokrasi namun mendukung rezim-rezim diktator. Ia lalu membodohi rakyat dunia lewat sistem global yang seolah ramah : Bank Dunia, PBB, WHO, IMF, UNICEF. Pembodohan selanjutnya dilakukan lewat media massa untuk membenarkan kepongahannya.

 

Noam Chomsky dalam bukunya,"Maling Teriak Maling : Amerika Sang Teroris" (terjemahan) memperkenalkan sebuah istilah untuk memudahkan kita menamai sistem pembodohan itu, “newspeak”. Newspeak adalah sistem penjungkirbalikan istilah. Setiap istilah dapat dikosongkan makna aslinya untuk diberi makna baru, selanjutnya ia dipropagandakan lewat media massa, buku, serangkaian seminar, konferesi dan karya ilmiah. Ketika istilah tersebut sampai di telinga atau mata kita, pikiran kita akan secara otomatis memaknainya dengan makna baru, karena ketika kita bersikukuh dengan makna lama (asli), tiba-tiba saja pikiran kita akan merasa aneh, janggal, terasing dan kriminal.

 

Sebagai contoh, bayangkan kata “terorisme” dalam pikiran Anda, lalu apa yang terbayang? Mengapa muslim, mengapa Imam Samudera, Osama, Al-Qaeda? Tidakkah Anda berpikir tentang Khmer Merah? Atau militer yang mengkudeta presiden Chili terpilih (demokratis) Savador Allende pada 11 September 1973? Masukkan nama “Abu Bakar Ba’asyir” dalam pikiran Anda. Apa yang terpikir? File apa yang muncul? Ya, dialah sang pemimpin Jamaah Islamiyah, pimpinan cabang Al-Qaeda Indonesia yang mengomando aksi-aksi pengeboman dari balik jeruji. Entri-lah kata “Syariat Islam” atau “Khilafah”, lalu muncullah dunia Wahabian yang kolot, kejam, pengekangan perempuan dan seterusnya. Newspeak juga berlaku untuk istilah-istilah lain seperti militan, kebebasan, mutual-respect, radikalisme dsb. Mengapa kita tidak berpikir makna yang lain? Barangkali saja kita berpikir makna yang lain, namun segera kita merasa terasing, aneh, dan membangkang.

 

Seperti itulah Amerika mengendalikan pikiran rakyat dunia agar satu arus dengan ideologinya. Chomsky menyebutnya “the American Ideological System”. Pikiran adalah hal pertama yang mesti dikendalikan oleh Amerika untuk menyukseskan perang melawan musuh baru. Itulah sebabnya konon pasca serangan 11 September 2001, pagi-pagi George W. Bush menyerukan untuk melarang peredaran buku Kitab Tauhid karangan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, serupa dengan mantan wakil presiden Indonesia di periode yang lalu yang menyerukan melarang semua buku karya Sayid Quthb. Buku adalah pembentuk pikiran yang juga mesti dikendalikan (oleh Amerika). Selanjutnya pikiran dikendalikan lewat media elektronik, dari CNN hingga TVOne, perhatikan bagaimana istilah-istilah di atas masuk ke dalam pikiran kita dengan makna baru, membentuk pikiran kita agar sesuai dengan ideologi mereka.

 

Ketika pikiran manusia dicekoki istilah-istilah lama dengan makna baru lalu terbodohi dengannya, barangkali inilah yang dinamakan jahiliyah (kebodohan) yang serupa dengan jahiliyahnya Mekkah pra-Islam. Jahiliyah bukan tidak bisa calistung, melainkan bodoh dari makna yang hakiki. Maka Muhammad SAW, segera setelah dilantik menjadi Nabi, berupaya meredefinisi istilah-istilah, dimulai dari pengertian istilah “Tuhan” (rabb, ilah). (Atas dasar ini juga Syed Naquib al-Attas, intelektual Malaysia kelahiran Indonesia, membangun “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Ia melakukan pemaknaan kembali (Islamisasi) terhadap istilah-istilah yang sudah di-Barat-kan. Dimulai dari istilah “ilmu”).

 

Kebodohan rakyat dunia seperti ini menjadi penopang utama imperium Amerika. Kebodohan ini memberikan kekuatan pada Amerika untuk mengobarkan perang Afghan dan Irak, karena rakyat dunia secara “terpaksa tidak sadar” membenarkan rasionalisasi tindakan itu. kebodohan ini memberi kekuatan pada Amerika mengintervensi madrasah untuk menghapus materi jihad dari kurikulum, karena rakyat dunia mengamini kata jihad yang dalam kamus Newspeak (Newspeak Dictionary) berarti terorisme. Kebodohan rakyat dunia membuat hadirin memberi applause pada pidato Obama di Kairo yang berbusa tentang “muttual respect” antara Barat dan Islam, pada saat yang sama anak buahnya sedang menjatuhkan bom di Pakistan!

 

Hampir tiga dekade lalu, novel Orwell itu seolah menyodorkan satire untuk perilaku Amerika itu ketika menyebutkan slogan Partai Ing-Soc di negara Oceania yang Orwellian itu : "KEBODOHAN ADALAH KEKUATAN" (IGNORANCE IS STRENGTH).

 

Ya, kebodohan kita adalah kekuatan imperium. Sampai di mana batas kebodohan kita, sampai di situlah wilayah kekuatan imperium. Untuk melawan kekuatan imperium sama artinya kita harus melawan kebodohan kita sendiri. Kebodohan akan agama kita, kebodohan akan makar musuh Islam. “1984” menampilkan tokoh resistensi bernama “Emmanuel  Goldstein” yang melawan arus newspeak dengan akal sehatnya, walaupun ia mesti dinihilkan oleh rezim Ing-Soc lalu menjadi korban “newspeak” pula : kriminal yang harus dibenci, dicaci dan dicerca. Persis begitu orang-orang terasing (ghuraba) masa kini, untuk melawan kebodohan (jahiliyah) mestilah menjadi korban newspeak : distigma sebagai radikalis-fundamentalis, musuh seluruh dunia. Rasulullah SAW bersabda,

 

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Awal kedatangan Islam sebagai sesuatu yang asing dan ia akan kembali (menjadi) asing sebagaimana awalnya, maka kebahagiaan bagi orang-orang yang asing” (HR Muslim)

 

Islam menjadi terasing ketika melawan arus ideologi newspeak. Akan tetapi justru itulah tugas kita. Di masa ketika dunia dikendalikan oleh kekuatan imperium hingga ke pikiran, langkah pertama untuk melawan adalah dalam pikiran itu sendiri, revolusi pemikiran. Dari pikiran kita melawan kebodohan, ke alam nyata kita melawan kekuatan.[]

 

Penulis :

Reza Ageung S.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah
Balikpapan

sumber: muslimdaily.net

Minggu, 09 Januari 2011

detik Finance : Koalisi Anti Utang: Sampai Tujuh Turunan RI Sulit Lunasi Utang

http://www.detikfinance.com/read/2011/01/09/180342/1542664/4/koalisi-anti-utang-sampai-tujuh-turunan-ri-sulit-lunasi-utang?hlight
Jakarta - Jumlah utang Indonesia terus bertambah, membuat tak seorang pun yang bisa memprediksi kapan Indonesia bisa melunasi utang-utangnya. Terlebih lagi jumlah utang yang dibayarkan dengan jumlah utang baru relatif sama-sama besar.

"Saya rasa tidak ada yang bisa memprediksi kapan negara bisa melunasi utangnya jika tidak ada tindakan untuk mengurangi utang. Bayar besar, utang juga besar. Sampai tujuh turunan saya-pun kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, negara tidak akan bisa melunasi utangnya," ungkap Ketua Koalisi Anti Utang Dani Setiawan ketika dihubungi detikFinance, Minggu (9/1/2011).

Menurut Dani, ada beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemerintah untuk mengurangi utang negara. Salah satunya adalah dengan meng-audit jumlah utang negara. Ia menambahkan bahwa harus ada audit terhadap proyek-proyek dari utang sehingga ada upaya negosisasi untuk penghapusan utang.

Hal ini dikarenakan ada beberapa utang yang digunakan untuk melaksanakan proyek, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Setelah ada penghapusan utang, bisa dilakukan relokasi dana, misalnya untuk subsidi pendidikan. Melalui subsidi-subsidi tersebut, maka akan bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Dani juga mengungkapkan bahwa jika dihitung, penambahan nominal pada 2009-2010 utang negara bertambah sebanyak Rp 65-75 Triliun dan tahun 2011 bisa bertambah lagi jumlahnya. Kondisi seperti ini akan terjadi karena pemerintah mengandalkan penerbitan surat berharga yang jumlahnya besar. Hal ini dinilai sama dengan membunuh perekonomian rakyat.

Di dalam APBN 2011, pembayaran utang negara (cicilan pokok+bunga utang) meningkat menjadi Rp 247 triliun, naik Rp 10 triliun bila dibandingkan 2010. Pembayaran utang tersebut menyerap pendapatan negara yang seharusnya digunakan untuk rakyat, misalnya saja untuk anggaran subsidi pendidikan dan bahan bakar minyak (BBM).

"Secara langsung maupun tidak langsung, maka akan membunuh rakyat. Hal ini dikarenakan tanggungan beban akan dilimpahkan kepada rakyat melalui pengurangan subsidi dan beban pajak. Contohnya saja adalah pengapusan subsidi BBM," ungkap Dani.

Menurut sudut pandang Dani, pemerintah saat ini mempunyai dua kebijakan untuk mengurangi utang yang justru menambah beban rakyat. Pertama adalah dengan menarik utang-utang baru yang digunakan untuk membayar utang lama dan mengurangi alokasi-alokasi yang dianggap membebani pemerintah.

"Kebijakan seperti ini harus ditolak karena akan semakin membebani rakyat. Dengan adanya utang itu, pemerintah tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi rakyat," pungkasnya.

Berdasarkan data Utang Luar Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI), tercatat hingga September 2010, utang Indonesia mencapai US$ 194,349 miliar (setara Rp 1.755 triliun dengan kurs Rp 9000 per dollar AS). Utang tersebut merupakan utang pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan swasta. Dari jumlah itu, utang terbesar berasal Jepang dan Amerika Serikat (AS).

(nin/hen)

Jumat, 17 Desember 2010

John Pilger - The War You Don't See

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary


The new film is a powerful and timely investigation into the media's role in war, tracing the history of 'embedded' and independent reporting from the carnage of World War One to the destruction of Hiroshima, and from the invasion of Vietnam to the current war in Afghanistan and disaster in Iraq. As weapons and propaganda become even more sophisticated, the nature of war is developing into an 'electronic battlefield' in which journalists play a key role, and civilians are the victims. But who is the real enemy?

John Pilger says in the film: "We journalists... have to be brave enough to defy those who seek our collusion in selling their latest bloody adventure in someone else's country... That means always challenging the official story, however patriotic that story may appear, however seductive and insidious it is. For propaganda relies on us in the media to aim its deceptions not at a far away country but at you at home... In this age of endless imperial war, the lives of countless men, women and children depend on the truth or their blood is on us... Those whose job it is to keep the record straight ought to be the voice of people, not power."

Includes an interview with WikiLeaks founder and editor-in-chief Julian Assange.

Selasa, 28 September 2010

Hentikan Penjajahan = Hentikan Terorisme






SUMBER:

REPRESENTATIVE PRESS:
If You Want to Stop Terrorism, Stop Killing Muslims
http://www.youtube.com/watch?v=dW0eiPiuUuk

TALKING STICKS:
Interview – Confessions of an Economic Hit Man
http://www.youtube.com/watch?v=yTbdnNgqfs8

JOHN PILGERS:
New Rulers of The World
http://www.youtube.com/watch?v=8firb73r67g

Rakyat Oposisi:
NEGARA AMERIKA DIBANGUN DARI EMAS PAPUA
http://www.rakyat-oposisi.co.cc/2010/05/negara-amerika-dibangun-dari-emas-papua.html

Sejarah Harta Indonesia yang di ambil PT FREEPORT
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=272412341

Fool Me Twice – Official Release
(2002 Bali bombings/East Timor Documentary)
http://video.google.com/videoplay?docid=-4135706276167925924

Polri menerima dana dari AS untuk
penanganan terorisme. (Laporan Human Right Watch)
http://www.hrw.org/wr2k3/asia7.html

Surat Pengakuan ‘Nur Din M Top’
http://www.detiknews.com/read/2009/07/29/150350/1173703/10/surat-pengakuan-nur-din-m-top-atas-tragedi-marriott-ritz-beredar

Daftar Belasan Eksekutif Puncak Korban Bom Marriot II: http://bisnis.vivanews.com/news/read/76581-daftar_eksekutif_puncak_korban_bom_marriott

TERORISME & STANDAR GANDA AMERIKA
http://www.youtube.com/watch?v=5KFsHif5Psw

Sabtu, 21 Agustus 2010

Propaganda penjajah dari masa ke masa..., dari era VoC sampai era eFBe

Masih dalam rangka menyambut hari "kemerdekaan", mari kita belajar sejarah penjajahan yg tidak diajarkan di bangku sekolah:

Propaganda penjajah dari masa ke masa..., dari era VoC sampai era eFBe
Copas dari artikel blog informed.tk



Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan. ) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.

Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda lebih menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk merubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran yang lebih lanjut untuk kepentingan agenda politik.

Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan berpengaruh langsung pada perilaku untuk pencapaian suatu respon yang sama dengan niat yang dikehendaki dari pelaku propaganda.

Berikut ini beberapa contoh (gambar) bentuk propaganda:

Era Kolonial Belanda

"Belanda menolong Hindia (Indonesia)"
Sejak lama para penjajah menerjemahkan penjajahannya sebagai pertolongan bagi negara jajahannya.



Era Imperial Jepang

Propaganda kedatangan pemimpin penjajah Jepang
Disambut dengan penghormatan dan kemeriahan



Propaganda kepemimpinan dan pertolongan Jepang atas wilayah jajahannya



Poster kemenangan militer Jepang yang dipropagandakan sebagai "kemenangan" juga bagi negeri yang dijajahnya.



Era Kolonial Belanda II

Kembalinya nusantara di bawah penjajahan Kolonial Belanda dipropagandakan sebagai pertolongan Belanda kpd rakyat di negeri ini dari "penjajahan" Jepang.



Era Nekolim (Contoh propaganda via Facebook)

Propaganda saat ini yang menunjukkan "pertolongan" penjajah kepada rakyat jajahannya.



Propaganda saat ini yang menunjukkan "pertolongan" penjajah kepada rakyat jajahannya.



Propaganda lainnya yang menunjukkan intervensi dan penjajahan oleh suatu negara sebagai bentuk "pertolongan" dan "kepemimpinan".



Propaganda saat ini yang menunjukkan "pertolongan" penjajah kepada rakyat jajahannya.



Propaganda lainnya yang menunjukkan intervensi dan penjajahan oleh suatu negara sebagai bentuk "pertolongan" dan "kepemimpinan".


Bisa kita lihat, meski mengalami beberapa modifikasi dan inovasi, tapi pola propaganda dari dulu sampai sekarang sesungguhnya tidak mengalami banyak perubahan, terdapat beberapa pola baku yang dilakukan oleh propagandis penjajah dalam melancarkan aksi propagandanya. Diantaranya, selalu menonjolkan sosok sang penjajah (komunikator) sebagai pahlawan bagi rakyat yang dijajahnya (komunikan), dan hal ini dapat dengan mudah kita baca dari propaganda-propaganda mereka saat ini.


sumber:
informed.tk

_________________________________________________

TAMBAHAN 2 VIDEO TENTANG PENJAJAHAN TERBARU DI INDONESIA:

Indonesia: Negeri Kaya Jadi Negara Pengemis
Ratusan tahun lamanya, Indonesia itu dihisap oleh negara-negara Utara, bukan hanya Indonesia, semua negara-negara kulit berwarna. Sehingga Barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Sekarang didikte oleh IMF, oleh Bank Dunia. Negeri yang begini kaya diubah menjadi negara pengemis: Indonesia. Karena tidak adanya karakter pada elit (penguasa). Pramoedya Ananta Toer, (Penulis & mantan tahanan politik)

http://www.youtube.com/watch?v=phTSnG4efdI

Ideologi Islam vs Imperialisme Amerika
bahwa 5% dari populasi dunia, yaitu kita, populasi Amerika, mengkonsumsi 25% dari sumberdaya dunia, dan ini sangat mengganggu masyarakat dunia lainnya. Kita seperti gurita raksasa yang mencengkram semuanya lalu selayaknya Santa Claus membagi-bagikannya kepada kita (warga AS) dan lihatlah kebohongan yang kita jalani ini, sementara 3/4 dunia hidup dalam kemelaratan. Setiap hari 24.000 orang mati karena kelaparan dan 30.000 anak mati karena wabah penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan, setiap hari. John Perkins (ex Economic Hitman)

http://www.youtube.com/watch?v=N_lmGyuulRM

INDONESIA MILIK SIAPA?
(Bagian Sejarah Indonesia Yang Tidak Pernah Diajarkan)

Persekongkolan Jahat Persekongkolan Jahat dibalik Utang Luar Negeri

Transaksi utang luar negeri tidak bisa dipandang sebagai transaksi utang piutang biasa. Hal ini dibuktikan oleh kehadiran utang luar negeri yang telah berlangsung sejak awal kemerdekaan, kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Soeharto dan masih berlangsung pemerintahan saat ini. Kemerdekaan Indonesia mendapat pengakuan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), setelah pemerintah Indonesia mau menanggung beban utang luar negeri yang dibuat oleh Hindia Belanda. Praktis sejak tahun 1950, pemerintah Indonesia serta merta memiliki utang yang terdiri dari utang luar negeri warisan Hindia Belanda senilai US$ 4 miliar dan utang luar negeri baru Rp 3,8 miliar. Ketika pemerintahan Soekarno melakukan pembuatan utang luar negeri baru maka pemerintah tidak bisa menghindar dari tekanan pihak pemberi utang.
Dikutip dari buku "Mafia Berkeley & Pembunuhan Massal di Indonesia":Download

Kumpulan Artikel Tentang Dijualnya Bangsa Indonesia Pada Pihak Asing
http://ariefmas.wordpress.com/2009/1...afia-berkeley/

Minggu, 15 Agustus 2010

KOMPENI DAN OPASNYA DI ZAMAN SEKARANG

Kompeni dan Opas


Opas adalah penduduk pribumi yang menjual jiwa dan raga mereka kepada Kompeni demi secuil upah. Mereka tega menzalimi dan membunuh saudara se-Tanah Air mereka demi kenyangnya perut mereka sendiri. Memakai seragam layaknya tentara VOC sungguhan, dengan bangganya mereka menganggap diri mereka lebih terhormat daripada rakyat pribumi yang hanya memakai pakaian compang-camping seadanya. Selain cara pakaiannya, mereka jg berpesta dan berbicara layaknya Kompeni sungguhan, padahal kulit mereka sawo matang, hidung mereka pesek, rambut mereka hitam yg tdk membedakan dengan saudara pribumi lainnya. (disadur dari: Si Pitung, Kompeni & Opas)

Lalu bagaimanakah sosok Kompeni & Opas-nya pada zaman sekarang? Silahkan simak 3 video dibawah ini:


IDEOLOGI ISLAM VS IMPERIALISME AMERIKA
....
Kita seperti gurita raksasa yang mencengkram semuanya lalu selayaknya Santa Claus membagi-bagikannya kepada kita (warga AS) dan lihatlah kebohongan yang kita jalani ini, sementara 3/4 dunia hidup dalam kemelaratan. Setiap hari 24.000 orang mati karena kelaparan dan 30.000 anak mati karena wabah penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan, setiap hari. Juga banyak orang yang tinggal di wilayah-wilayah yang penuh kemarahan, dan mereka melihat kita 5% populasi dunia meraup 25% dari sumberdaya mereka, sementara kebanyakan mereka sendiri hidup dalam kehidupan yang tragis, melarat, memprihatinkan dan menderita. -John Perkins (mantan Economic Hitman)
http://www.youtube.com/watch?v=N_lmGyuulRM




INDONESIA, NEGERI KAYA MENJADI NEGARA PENGEMIS:

http://www.youtube.com/watch?v=phTSnG4efdI

Indonesia adalah negeri di mana imperialisme lama bertemu dengan imperialisme baru. Ini adalah negeri yang tidak semestinya miskin, kaya dalam hampir segalanya: Tembaga dan emas, minyak, kayu, keahlian dan SDM-nya.

Dijajah oleh Belanda di abad ke-16, kekayaan Indonesia dirampas oleh Barat selama ratusan tahun. Hutang yang sesungguhnya sampai saat ini tak terbayar.
(John Pilger, Wartawan senior Australia & aktivis kemanusiaan)



AS DANAI DENSUS 88

http://www.youtube.com/watch?v=G3yjS_J59vk
Tahun 2006 - 2010 AS Memberikan Dana $57.4 Juta untuk pemberantasan Teroris
http://www.fas.org/sgp/crs/natsec/RS22855.pdf

Dana AS yang mengalir kepada Polri untuk mendirikan unit khusus anti-teror di Indonesia sangat besar, dan setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Berdasarkan dokumen Human Right Watch tentang Counter Terorism yang dilakukan AS, pembentukan Densus 88 di Indonesia pada tahun 2002 didanai AS sebesar 16 juta dollar, dan sebelumnya pada tahun 2001 Polri telah menerima dana untuk penanganan terorisme sebesar 10 juta dollar. (http://www.hrw.org/wr2k3/asia7.html)

DENSUS 88 = OPAS?

Senin, 14 Juni 2010

Indonesia: Negeri kaya jadi negara pengemis




Indonesia adalah negeri di mana imperialisme lama bertemu dengan imperialisme baru. Ini adalah negeri yang tidak semestinya miskin, kaya dalam hampir segalanya: Tembaga dan emas, minyak, kayu, keahlian dan SDM-nya.

Dijajah oleh Belanda di abad ke-16, kekayaan Indonesia dirampas oleh Barat selama ratusan tahun. Hutang yang sesungguhnya sampai saat ini tak terbayar.
(John Pilger, Wartawan senior Australia & aktivis kemanusiaan)


Ratusan tahun lamanya, Indonesia itu dihisap oleh negara-negara Utara, bukan hanya Indonesia, semua negara-negara kulit berwarna. Sehingga Barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang.

Sekarang didikte oleh IMF, oleh Bank Dunia. Negeri yang begini kaya diubah menjadi negara pengemis: Indonesia. Karena tidak adanya karakter pada elit (penguasa).
(Pramoedya Ananta Toer, Penulis & mantan tahanan politik)


Sebagai sebuah lembaga yang 18% sahamnya dikuasai Amerika, IMF tentu tidak dapat mengelak dari keharusan untuk menyebarluaskan ideologi free markets dan free trade tersebut. Secara terinci, hal itulah sesungguhnya yang terungkap dalam sebuah paket kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington.

Bila dicermati letter of intents (LoI) yang pernah ditanda tangani Pemerintah Indonesia bersama IMF, tidak terlalu sulit untuk disimpulkan bahwa IMF pada dasarnya memang bekerja sesuai dengan amanat para pemodalnya. Artinya, misi untuk menyelenggarakan 'free markets' dan 'free trade' itulah sesungguhnya yang mengikat IMF dan para ekonom neoliberal tadi untuk mempertahankan campur tangan IMF di sini.
(Revrisond Baswir, Ekonom UGM)