Tampilkan postingan dengan label wikileaks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wikileaks. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Being Innocent isn't Enough, No Justice for CIA Torture Victim El-Masri

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
Khaled El-Masri seorang warga Jerman, ayah dari seorang anak 6 tahun diculik oleh CIA, kemudian dikirim ke Afghanistan untuk disiksa.

Ketika mereka sadar bahwa dia tidak bersalah, dia diterbangkan ke Albania dan dibuang ke jalanan tanpa permintaan maaf.

Upaya sia-sia El-Masri untuk menerima keadilan di Amerika Serikat sudah terkenal, tapi baru-baru ini kabel yang dibocorkan oleh Wikileaks mengungkapkan bahwa AS juga memperingatkan pemerintah Jerman agar tidak mengizinkan penyelidikan terhadap penculikan itu.

Keadilan terdekat yang dia dapatkan adalah sebuah surat perintah penangkapan kepada 13 agen CIA yang dikeluarkan jaksa di Spanyol, dimana mereka masuk menggunakan paspor palsu.

Video ini adalah bagian dari dokumenter Witness.org OUTLAWED, berhubungan El-Masri & pengalamannya.



CIA agents held him for at least several weeks after his release had been ordered. And the injustices didn't end after he was released, he STILL can't get justice. A Munich court had issued arrest warrants against the CIA agents for complicity in his kidnapping and torture but that was dropped. And thanks to Wikileaks we know why, the US government pressured Germany to drop the case, to not pursue justice , to not allow El-Maseri his day in court.

"... similarity of his name to that of Khalid al-Masri, an Al Qaeda agent linked to the Hamburg cell where the 9/11 attacks were plotted. Despite El-Masri's protests that he was not al-Masri, he was beaten, stripped naked, shot full of drugs, given an enema and a diaper, and flown first to Baghdad and then to the notorious "salt pit," the CIA's secret interrogation facility in Afghanistan. At the salt pit, he was repeatedly beaten, drugged, and subjected to a strange food regime that he supposed was part of an experiment that his captors were performing on him. Throughout this time, El-Masri insisted that he had been falsely imprisoned, and the CIA slowly established that he was who he claimed to be. Over many further weeks of bickering over what to do, a number of CIA figures apparently argued that, though innocent, the best course was to continue to hold him incommunicado because he "knew too much.""
http://harpers.org/archive/2010/11/hb...
"The Washington Post reported that CIA agents, fearing the consequences of releasing him, argued for his continued detention and in fact held him for at least several weeks after his release had been ordered."
http://www.harpers.org/archive/2010/0...
http://www.spiegel.de/international/0...
http://www.spiegel.de/international/g...
http://www.nytimes.com/2010/12/09/wor...
The media's authoritarianism and WikiLeaks
http://www.salon.com/news/opinion/gle...
http://www.salon.com/news/opinion/gle...
Read Items 1-9 detailing revelations of State Department wrongdoing from the WikiLeaks disclosures:
http://www.salon.com/news/opinion/gle...
Wikileaks and the El-Masri case: Innocent CIA torture victim more than just a leaked cable
http://www.youtube.com/watch?v=-Hh-87...

Selasa, 18 Januari 2011

VIVAnews - WikiLeaks: AS Andalkan Blogger Indonesia

http://us.dunia.vivanews.com/news/read/200116-wikileaks--as-andalkan-blogger-indonesia
makin jelas mengapa saya lihat ada bloger2 sedemikian gigihnya menyebarkan paham liberal dan pro-AS. dugaan saya mereka bahwa dibayar ternyata benar...., walau mungkin sebagian juga dibayar dgn mimpi (American Dream) :))

Minggu, 05 Desember 2010

Ini Dokumen Tentang Indonesia yang Dibocorkan Wikileaks

http://www.metrotvnews.com/metromain/newscat/polkam/2010/12/03/35835/Ini-Dokumen-Tentang-Indonesia-yang-Dibocorkan
Metrotvnews.com, Jakarta: WikiLeaks, situs peniup peluit, memiliki sebanyak 3.059 dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait Indonesia. Dokumen itu merupakan semacam laporan diplomatik yang dikirim dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya. Situs Wikileaks berjanji akan mempublikasi dokumen itu secara bertahap.

WikiLeaks mulai menepati janjinya. Tiga buah dokumen mengenai Indonesia sudah dirilis. Dokumen itu dibuat dalam bentuk Congressional Research Service (CSR), lembaga think tank Kongres AS. Dokumen CRS ini biasanya menjadi dasar bagi Senat dan DPR AS dalam mengambil kebijakan. Berikut isi dokumen tersebut:

Masalah Timor Timur
CRS Report RS20332
East Timor Crisis: US Policy and Options
5 November 1999

*Pemerintahan Presiden Bill Clinton menekan RI agar menerima kehadiran pasukan perdamaian internasional di Timor Timur usai jajak pendapat 1999.

*Menghentikan kerja sama militer AS dan Indonesia dan mengancam sanksi lebih keras bila tak mau bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur.

*Mendukung keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia menghentikan bantuan mereka untuk Indonesia.

* Bantuan yang dihapus untuk tahun 2000 antara lain bantuan ekonomi 75 juta dolar AS, Economic Support Funds 5 juta dolar AS dan IMET 400 ribu dolar

Tentang Pemilu 2004
CRS Report RS21874 Analyst in Southeast and South
Asian Affairs 20 Mei 2005

*SBY disebut the thinking general

*Bila Wiranto jadi presiden, hubungan RI dan AS akan sangat rumit karena Kongres AS menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur.

*Suksesnya Pemilu 2004 meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat.

Pelatihan Kopassus
Dokumen Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress
26 Januari 1999

*Sejak 1992, Kongres AS memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer Internasional (IMET) untuk Indonesia setelah tragedi Santa Cruz.

* Namun, di bawah program JCET Departemen Pertahanan yang di setujui oleh Departemen Luar Negeri, pasukan Baret Hijau AS melatih 60 anggota pasukan khusus TNI di Indonesia yang sebagian besar Kopassus. JCET berdalih pelatihan murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul ‘crowd control’.

*April 1998, anggota Kongres AS menyurati Menteri Pertahanan Cohen Evans yang menyebut program JCET mengakali larangan Kongres. JCET dihentikan 8 Mei 1998.

(Sumber: WikiLeaks, Congressional Research Service/DOR)