Sabtu, 05 Februari 2011

Imanda Amalia: Itu Hanya Hoax

http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/02/04/brk,20110204-311164,id.html
TEMPO Interaktif, YOGYAKARTA - Imanda Amalia, 24 tahun, mendadak menjadi populer. Ini lantaran namanya disebut sebagai korban tewas dalam peristiwa berdarah di Mesir. Beberapa media televisi telah mewawancarainya, termasuk media Mesir. “Tapi untuk media Mesir karena pakai bahasa Arab jadi terputus,” kata Imanda kepada Tempo, Jumat 4 Februari 2011 dengan nada tenang.

Tak hanya media. Imanda, juga kebanjiran telepon untuk konfirmasi. Termasuk diantaranya United Nations Relief and Works Agency (UNRWA), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi pengungsi, juga mengontak dirinya. “Berita itu hoax, Imanda Amalia itu bukan saya yang mahasiswa UGM,”kata Imanda.

Imanda mengaku berasal dari Mataram. Ia tercatat sebagai mahasiswa S2 manda tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran angkatan 2010.

Lagipula, Imanda mengaku, seseorang yang kebetulan namanya sama dengan identitasnya lebih tua dibanding dirinya. Imanda yang mahasiswa UGM ini masih berumur 24 tahun, berbeda dengan Imanda yang disebut-sebut staf UNWRA, berkewarganegaraan Australia dengan umur 28 tahun. Perempuan kelahiran Mataram, 25 Mei 1987 ini mengaku belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Mesir.

Kabar menghebohkan itu muncul setelah pesan memilukan itu pertama kali dimunculkan Pumy Kusuma, teman Imanda, lewat akun Facebook Science of Universe. Dalam postingan disebutkan pula, pesan Imanda dalam Blackberry-nya. "Kami terjebak dalam baku tembak.... Ambulans tertembak. Terkena lemparan batu. Belum bisa dievakuasi karena massa makin memanas .... Please, doakan Manda dan kawan-kawan,".

Sejak itu, kabar bahwa ia tewas di tengah baku tembak di Kairo tersebut menjalar cepat di Facebook, Twitter, milis, dan portal-portal berita di Indonesia.

Imanda, disebut-sebut sebagai perempuan asal Indonesia itu--tapi disebut-sebut telah menjadi warga negara Australia--menyerahkan hidupnya untuk mengurus pengungsi di Gaza. Disebutkan pula, Imanda adalah lulusan Universitas Gadjah Mada ini anggota staf United Nations Relief and Works Agency (UNRWA), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani pengungsi, sejak 7 Juli 2010.

Akibat kabar itu, sepanjang Kamis kemarin, Kementerian Luar Negeri dibuat sibuk untuk mencari kebenaran soal Imanda Amalia. Namun informasi tak jua berbuah hasil.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan, tak ada warga negara Indonesia di Kairo atas nama Imanda Amalia. Pun juga tak ada WNI yang jadi korban meninggal di Kairo. Marty juga mengaku berupaya melakukan verifikasi kepada kantor UNRWA di Amman Yordania dan Newyork, Amerika Serikat. Namun mereka menyebutkan tidak staf UNRWA atas nama Imanda.

Marty menegaskan, namun pemerintah akan terus berupaya mencari informasi yang pasti. Sehingga tidak terjadi simpang siur dimasyarakat. Hingga saat ini pemerintah belum mendapatkan aduan soal adanya keluarga di dalam negeri yang kehilangan anggota keluarganya, bernama Imanda Amalia.

Imanda mengaku mengetahui kehebohan ini setelah Ustadnya di Pondok Assalam menelpon dan menanyakan dirinya. “Apakah saya baik-baik saja,”katanya.

Ustad itu menurut pengakuan Imanda mendapat kontak dari reporter televisi swasta menanyakan kebenaran Imanda Amalia. Lantaran belum pernah menginjakkan kakinya di Mesir, maka Imanda mengatakan identitas itu salah. Lagipula foto yang terpasang di akun facebook juga bukan dirinya. “Jelas wajahnya bukan saya,”katanya.

Imanda mengaku tidak sedikitpun cemas atau takut setelah kabar menghebohkan. Adapun keluarganya hanya tertawa dengan kabar simpang siur ini. “Karena mereka tahu saya di Jogja dan baik-baik saja,”katanya.

BERNADA RURIT

Jumat, 04 Februari 2011

INSIDEN MONAS DAN PECAH BELAH ALA RAND CORPORATION

Adanya politik adu domba di balik insiden Monas semakin menguat. Pernyataan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengingatkan pihak-pihak tertentu untuk tidak melibatkan NU menyusul insiden Monas 1 Juni. “NU akan memberikan sanksi kepada siapa pun yang melakukan provokasi,” tegasnya.

Hasyim menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujar Ketua PBNU Hasyim Muzadi dalam pernyataan tertulis pada detikcom, Selasa (3/6/2008). KH Hasyim Muzadi juga mengingatkan pelibatan orang-orang NU yang menjadikan NU sebagai pihak yang juga terlibat dalam bentrok fisik itu. “Ini tidak boleh terjadi dan harus dicegah. Bentrok fisik sangat merugikan. Kita ingin menyelesaikan masalah Monas, bukan memperluas masalah itu,” tegasnya.

Upaya mengadu domba antara NU dan ormas Islam lain seperti FPI memang sangat terasa. Tampak dari reaksi warga NU diberbagai daerah yang mendatangi markas FPI. Konflik horizontal pun dikhawatirkan meluas di daerah-daerah.

Tidak hanya itu , perluasan insiden Monas juga tampak dari upaya membangun opini seakan-akan lasyar Islam menyerang kelompok memperingati hari kesaktian Pancasila. Serangan ini dianggap ancaman terhadap Pancasila, ideologi negara, dan pada gilirannya dianggap merupakan ancaman terhadap negara.

Upaya adu domba yang konflik horisontal ini tidak bisa dilepaskan dari grand-strategi negara-negara Imperialis untuk menghancurkan umat Islam dan kekuatan Islam. Untuk itu, negara-negara Imperialis seperti AS memanfaatkan LSM-LSM komprador yang menjadi kaki tangannya untuk memprovokasi konflik.

Campur tangan asing tampak dari kecaman kedubes AS terhadap insiden Monas. Kedubes AS di Indonesia mengeluarkan siaran pers yang mengutuk aksi kekerasan oleh FPI. AS menilai, aksi itu berdampak serius bagi kebebasan beragama dan dapat menimbulkan masalah keamanan. Namun, pernyataan Kedubes AS itu dinilai anggota Fraksi PKS di DPR, Soeripto, sebagai bentuk campur tangan AS dalam masalah dalam negeri. ”Itu tidak etis. Bahasa kasarnya intervensi. Seakan-akan pemerintah kita yang lemah,” katanya.

Grands strategi ini bisa terlihat dengan jelas dari rekomendasi Rand Corporation yang merupakan think-thank neo-conservative AS yang banyak mendukung kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi Cheryl Benard dari Rand Corporation yang berjudul CIVIL DEMOCRATIC ISLAM , PARTNERS ,RESOURCES, AND STRATEGIES secara detil diungkap upaya untuk memecah belah umat Islam.

STRATEGI : PECAH BELAH KELOMPOK ISLAM

Langkah pertama melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi.

Pertama : Kelompok Fundamentalis : menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.

Kedua : Kelompok Tradisionalis : ingin suatu masyarakat yang konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.

Ketiga : Kelompok Modernis : ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.

Keempat : Kelompok Sekularis : ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan antara agama dan negaradengan cara seperti yang dilakukan negara-negara demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.


STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA

 Setelah membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan antara NU yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang Barat sering disebut Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau MMI

Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya :

Pertama : Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis)

  • Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi.

  • Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda.

  • Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam.

  • Memberikan mereka suatu platform publik

  • Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.

  • Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan “counterculture” bagi kaum muda Islam yang tidak puas.

  • Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.

  • Membantu dalam membangun organisasi-organisasi sipil yang independent, untuk
    Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka.



Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists : Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain :

  • Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.

  • Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.

  • Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan
    Kaum modernis.

  • Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka
    untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis
    secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik „Islam pinggiran” yang kabur . Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.

  • Menambah kehadiran dan profil kaum modernis pada lembaga-lembaga tradisionalis.

  • Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda. Mendorong orang-orang dengan ketertarikan yang lebih besar atas modernisme, seperti pada Mazhab Hanafi, lawan yang lainnya. Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham Wahhabi yang terbelakang. Hal ini berkaitan dengan pendanaan. Uang dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab Hambali yang konservatif. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian dari Dunia Islam yang lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan tafsir dari Hukum Islam.

  • Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme


Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists : Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain :

  • Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak akuratannya.

  • Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktiviats illegal.

  • Mengumumkan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan.

  • Menunjukkan ketidak mampuan mereka untuk memerintah, untuk mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.

  • Mengamanatkan pesan-pesan ini kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.

  • Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.

  • Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.

  • Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.


Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler :

  • Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama, mematahkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideology kiri.

  • Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa Hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya. Pendekatan manapun atau kombinasi pendekatan manapun yang diambil, kami sarankan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja dan secara hati-hati, dengan mengetahui beban simbolis dari isu-isu yang pasti; konsekuensi dari penyesuaian ini bagi pelaku-pelaku Islam lain, termasuk resiko mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang kita berusahah bantu; dan kesempatan biaya-biaya dan konsekuensi afiliasi yang tidak diinginkan dan pengawasan yang tampaknya pas buat mereka dalam jangka pendek.(swaramuslim.com - hidayatullah.com)


DOKUMENNYA BISA DI UNDUH LANGSUNG DARI SITUS RESMI RAND CORP:
http://www.rand.org/pubs/monograph_reports/MR1716.html


COMBAT KIT FOR LATIP :))

Ulama AS: Non-Muslim memecah Muslimin utk cegah KHILAFAH
http://www.youtube.com/watch?v=2NI3WR4pBfE
PECAH BELAH ALA RAND CORPORATION, Membela kelompok2 liberal & aliran2 sesat, memojokkan & membesar2kan "kekurangan" fundamentalis:
http://akar03.multiply.com/journal/item/69/INSIDEN_MONAS_DAN_PECAH_BELAH_ALA_RAND_CORPORATION

Sumber Aslinya langsung dari rand corporation:http://www.rand.org/pubs/monograph_reports/MR1716.html

yaaaa mirip2 yg sekarang sedang dilakukan Mister Latip terus menerus tanpa lelah :))

Rabu, 02 Februari 2011

WNI Tewas di Mesir- Inilah Pesan Terakhir Imanda Amalia

http://news.okezone.com/read/2011/02/03/337/420983/inilah-pesan-terakhir-imanda-amalia
Kamis, 3 Februari 2011 - 12:20 wib
TB Ardi Januar - Okezone


Facebook

JAKARTA - Tragedi revolusi di Mesir akhirnya menewaskan seorang Warga Negara Indonesia atas nama Imanda Amalia.
Sebelum dikabarkan tewas, Imanda sebelumnya pernah mengirimkan sebuah pesan melalui Blackberry Messenger (BBM). Berikut isi BBM Imanda yang dilansir dari Facebook milik Science Of Universiti, Kamis (3/2/2011).

Doakan Manda,

Kami terjebak dalam baku tembak
Ambulance tertembak
Terkena lemparan batu
Blom bisa dievakuasi karena massa makin memanas

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait berita ini.
(teb)

*UPDATE: Berita ini masih simpang siur, belum bisa dikonfirmasi kebenarannya.